One Step Forward
Hari ini tepat duapuluh tiga tahun lebih 5 bulan 20 hari aku hirup kehidupan dunia dan aku masih saja terjebak disini dalam keragaman pikir tak nyata. Percaya apa yang kulihat menjadi satu pembalikan dimensi ketika mata ini membuka gerbangnya. ketika mata mengelabui pikiran dan pikiran tidak bisa merasionalkannya maka apa yang dilihat mata dan dipercaya pikran menjadi ilusi yang nyata dalam dimensi yang disebut kenyataan.
Bahwa aku disini… adalah yang mereka anggap nyata di dalam dimensi tak nyata. di balik tabir misteri kenyataan ternyata mereka yang tak ada. Adakah sepi yang tak nyata? ataukah kenyataan yang tetap membelengguku dalam kesepian?
Entahlah.. Banyak hal yang meyakinkanku, dan tidak sedikit yang menjadi pertimbangan untuk melangkah. rasa sakit dan kecewa mematri kakiku untuk tetap berdiri dalam satu titik kebimbangan dan ketakutan. antara kenyataan dan ketidaknyataan. yang dua-duanya sama nyata bagiku, yang dua-duanya memberikan kebahagiaan tersendiri.
Dia pernah berjanji dalam satu resonansi senandung hujan, diantara merahnya senja dan lelehan titik-tik air yang membasahi dedaunan. Bahwa kehidupan adalah sebuah pasangan, layaknya Matahari dan bulan, Siang dan Malam, Panas dan Hujan. menginderakan satu rasa menjadi pasangan sejiwa. Saat yang tepat untuk merasakan cinta berharap penuh pada penjiwanya, merasa jiwa bukanlah bagian dari dirinya. Menunggu dan menanti saat yang tepat dan meyakinkan dia orang yang benar adalah tugas berat. saat dia benar-benar bisa meyakinkan aku, maka dialah yang tepat. kalaupun aku masih salah memilih, setidaknya aku telah melampaui satu titik yang menjemukan yang menahanku antara kenyataan dan ketidaknyataan.
<< Bentuk "AWARD" Malang yang nyangsrang di blog gw….
